Perjuangan Sang Gadis
Crina, seorang anak kecil yang berumur 5 tahun ini, tinggal bersama ayah dan ibunya di sebuah kampung. Crina hidup dengan bahagia, ia memiliki teman bermain yang selalu siap menemaninya. Ayah Crina adalah seorang petani padi yang bekerja di sawah tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sementara itu, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.
Selama 2 tahun berlalu, Crina akhirnya dapat memasuki sekolah dasar. Crina hanya memakai seragam bekas tetangganya. Akan tetapi, Crina tidak merasa keberatan. Sebelumnya, Crina mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
"Bu, ayah belum punya banyak uang untuk keperluan seluruh seragam Crina. Sepertinya, ayah akan pinjam uang dulu saja" ucap ayah Crina.
"Tidak usah pinjam uang, pinjam seragam tetangga saja. Anaknya dulu di SD nya Crina. Kalau tas, sepertinya ada" jawab ibunya.
Ternyata tetangga tersebut memberikan seragamnya untuk Crina. Crina hanya diberikan Rp. 2.000 untuk uang saku. Ia pergi ke sekolah diantar oleh ibunya dengan berjalan kaki. Crina menjalankan hari-hari itu dengan senang hati. Walaupun ada rasa iri terhadap temannya yang lain, Crina akan berusaha agar dapat merasakan hal yang sama seperti mereka.
Crina memulainya dengan rajin belajar dan menabung, Crina tidak mau seluruh buku yang Crina miliki tidak dipergunakan dengan baik.
Di umur 8 tahun, Ayah Crina mulai batuk-batuk tiada henti. Hingga beranjak 10 tahun, Ayah Crina masuk ke rumah sakit karena jatuh pingsan. Crina hanya menangis melihat ayahnya dan sang ibu yang kesulitan mencari uang untuk biaya pengobatan. Di saat itu Crina mencoba membantu ibunya, akan tetapi, Crina kebingungan harus melakukan apa. Teman Crina datang untuk mencoba membantunya.
"Ada apa, Crina?" Melihat ekspresi Crina, temannya pun bertanya.
"Begini, aku ingin membantu ibuku mancari uang untuk biaya pengobatan ayahku. Tapi aku bingung harus apa" jawab Crina.
"Emm.. begini saja, kan sekarang sedang musim hujan. Gimana kalau coba jadi ojek payung saja untuk sementara?"
"Bisa, tapi aku tidak ada payung"
"Aku pinjamkan, hanya ada 1 untukmu"
"Wahh baiklah, terima kasih telah membantu"
"Sama-sama" akhir dari pembicaraan mereka.
Cuaca mulai mendung, saat yang menguntungkan bagi Crina. Dalam beberapa menit hujan mulai turun, Crina mulai membuka payung dan berkeliling dengan berteriak.
"Ojek payung! Ojek payung!"
Namun tidak ada sama sekali orang diluar. Mungkin karena berada di kampung, Crina memutuskan untuk pergi ke pinggir jalan raya karena berpikir akan ada banyak orang disana. Di depan mini market, Crina melihat ada seorang perempuan yang sedang berdiri menunggu hujan berhenti. Crina pun menghampirinya.
"Halo kak, mau ojek payung? Saya antarkan sampai tujuan" ucap Crina dengan tersenyum berharap kakak tersebut mau.
"Loh, adek nya jadi ojek payung? Tidak dicarikan orang tua kah, dek?" Kata kakaknya dengan merasa heran.
"Tidak kok, kak. Saya mau membantu ibu mencari uang untuk biaya pengobatan ayah"
"Oh gitu, baiklah. Antar saya sampai ujung sana ya"
"Siap ka" jawab Crina dengan tersenyum merasa senang.
Di perjalanan, kakak tersebut bertanya pada Crina.
"Ini sudah sore, kamu masih berani?"
"Masih kak" jawab Crina.
"Oke, sampai sini saja. Ini uangnya untuk kamu" kakak tersebut memberikan uang Rp. 50.000.
"Uangnya terlalu besar ka, Rp. 5.000 juga sudah cukup" ucap Crina yang terkejut akan diberikan uang sebesar itu.
"Gapapa, buat kamu saja. Terima kasih ya!"
"Oh iya, terima kasih kembali ka" tidak terasa, air mata Crina menetes, ia terharu karena mendapatkan uang sebesar Rp. 50.000 dalam sehari. Karena takut ia dicarikan oleh orang tuanya, Crina pun pulang ke rumah. Uangnya ia simpan di dalam tas sekolahnya.
Sehabis pulang sekolah, jika cuaca mulai hujan. Crina akan memulai aksinya yaitu menjadi ojek payung.
5 hari kemudian, ayahnya mulai sakit parah di rumah sakit. Karena tidak tega, Crina berpikir untuk memberikan hasil uangnya sekarang. Crina baru mengumpulkan Rp. 132.000 karena memang tidak ada banyak orang yang berada diluar menunggu hujan reda. Saat Crina memberikan uang tersebut, ibunya sangat terkejut melihat anaknya memegang uang untuk diberikan.
"Ini uang dari mana, nak?" Tanya ibunya.
"Hasil usaha Crina, bu. Ini uang untuk membantu ayah agar cepat pulih".
Ibunya menangis terharu dan memeluk Crina, memang tidak banyak namun sangat berarti.
Tunggu untuk bagian 2
Komentar
Posting Komentar