Perjuangan Sang Gadis 2

Dalam beberapa Minggu, tiba-tiba...
     Ayah Crina menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak mungkin tidak ada yang merasa sedih. Crina justru menangis paling kencang suaranya, hingga perawat datang untuk menenangkannya. Ibu Crina tidak dapat jauh dari suaminya, sang ibu pun terus menerus keluar air matanya. Hingga jasad Ayah Crina di makam kan, Crina dan ibunya tampak masih merasa sedih kehilangan seseorang yang mereka sayangi.
     Kini, Crina telah naik kelas 5 SD. Sebelum naik kelas, Crina masih melakukan ojek payung untuk membantu ibunya lagi. Di kelas 5, gurunya memberikan tugas membawa kertas warna untuk berlatih membuat bentuk kerajinan tangan. Hasil-hasil dari mengojek payung dan mengumpulkan uang saku sudah cukup lumayan banyak. Crina membeli kertas warna menggunakan uangnya sendiri. Keesokan harinya.
     "Anak-anak sekarang keluarkan kertas warnanya, lalu kita coba membuat bentuk hewan!" Perintah gurunya.
     "Baik Bu!" Jawab para murid.
     "Kita coba membuat kupu-kupu, pertama kita lipat dulu seperti ini lalu dilipat lagi" dan seterusnya ucap gurunya.
     Terlintas dalam benak pikiran Crina, mengapa ia tidak menjual kerajinan tangan saja? Misalnya seperti membuat rangkaian bunga lalu diberi hiasan. Namun, Crina tidak bisa membuat bunga. Crina memutuskan untuk bertanya pada gurunya, lalu terjawab.
     "Oke, anak-anak semuanya tolong perhatikan. Crina baru saja bertanya cara membuat bunga. Mari semuanya, kita buat bersama. Kita coba buat beberapa bunga tulip ya!" Pimpinan dari Guru Crina.
     Perlahan, Crina mulai bisa membuat beberapa bunga tulip. Sepulang sekolah, Crina mencoba membuat kembali apa yang telah diajarkan. Kira-kira akan terlihat seperti ini jika belum diikat.
     Crina coba membuat 10 rangkaian lalu ia jual dengan harga satuan Rp. 5.000 saja. Akan tetapi, mau dijual kemana? Crina mendapatkan beberapa ide untuk menjualnya dengan 3 cara, yaitu.
1. Dijual di depan rumahnya
2. Dijual saat sedang berjalan menuju sekolah
3. Dijual di sekolah.
     Sedikit tidak mungkin kalau dijual di sekolah, yang ada pasti akan ditertawakan oleh orang-orang di sekolah. Tapi, mari kita coba dulu. Sebelum itu, Crina meminta izin terlebih dahulu pada ibunya untuk berjualan. Ibunya tidak tega melihat anaknya berjualan sendiri. Pada akhirnya, sang ibu mengizinkan Crina. Akan tetapi, Ibu Crina akan ikut membantu Crina membuat kerajinan. Crina setuju saja, daripada tidak diizinkan untuk berjualan.
     Di hari berikutnya, sang ibu mengeluarkan meja di depan rumahnya dan menaruh beberapa bunga tulip yang telah dibuat bersama Crina. Sedangkan, Crina sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Beberapa bunga tulip ia simpan di kantong plastik, yang 1 ia pegang agar dapat dilihat oleh orang-orang. Crina berangkat ke sekolahnya.
     "Bunga tulip! Hanya Rp. 5.000 untuk hiasan" suara teriakan Crina selama diperjalanan.
     Ternyata ada juga orang yang tertarik. Crina hanya membawa 7 rangkaian bunga saja, karena takut rusak selama dibawa. Dan ternyata, 7 rangkaian itu terjual habis diperjalanan. Tidak ada sisa untuk dijual di sekolah, namun tidak apa-apa. Crina sangat senang, ia mendapatkan uang sebanyak Rp. 35.000 dari hasil usahanya sendiri.
     Saat pulang dari sekolah menuju rumah. Ternyata di rumahnya hanya terjual 4 rangkaian saja. Tapi tidak apa-apa, karena lama-lama pasti akan jadi banyak yang membeli. Ternyata benar saja, dalam 1 Minggu sudah banyak yang terjual. Uang yang terkumpul kisaran Rp. 455.000. Ibu Crina pun mengatur uang tersebut. Ibu Crina pun memiliki sebuah rencana, ia bicarakan bersama Crina.
     "Nak, ibu ada rencana untuk bekerja meneruskan pekerjaan ayah. Kamu buat saja bunga-bunga untuk dijual. Ini untuk kamu di masa depan juga, nak. Gapapa?".
     "Ya sudah, gapapa bu. Jangan terlalu lelah saja ya, bu" jawaban dari Crina.
     Dalam beberapa Minggu, Crina membeli payung menggunakan uangnya. Ia ingin manjadi ojek payung lagi untuk menambah uang, sekaligus menjual bunga tulip. Memang sudah jarang turun hujan. Tapi kalau akan hujan, Crina akan mengambil kesempatan tersebut. Saat lusa, tiba-tiba cuaca mendung dan mulai hujan. Crina pun keluar dari rumahnya seperti biasa. Tapi saat menawarkan ojek payung, tiba-tiba.
     "Eh, itu Crina? Hahaha, ternyata selama ini dia itu ojek payung"
     "Waduhh, aku kehujanan nih. Mau dong ojek payungnya, wkwkwk" perkataan dari 2 teman Crina.
     Crina pun mendengar suara tersebut, orang yang ia tawarkan pun pergi. Crina takut, apa yang akan terjadi di kemudian hari. Keesokan harinya di sekolah.
     "Semuanya, lihat deh. Ada si ojek payung nih"
     "Ups, itu bawa apa yaa. Kok kaya bunga yang waktu itu pernah kita bikin. Mau dijual?" Remehan dari orang-orang di sekolah.
     Crina hanya berdiam diri dan merasa heran. Saat dahulu, mereka semua itu baik. Akan tetapi, setelah mengetahui Crina menjadi ojek payung dan berjualan, semuanya menjadi berubah. Apa yang harus Crina lakukan di saat itu? Ya, Crina hanya diam dan melewatkannya.

Tunggu untuk bagian 3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjuangan Sang Gadis 3